Jumat, 21 Desember 2012

alam dan hubungannya dengan manusia

BAB I
Pendahuluan
Manusia sesuai dengan kodratnya itu menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal, dikatakan demikian karena persoalaan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu ataupun latar belakang historis kultural tertentu. Persoalan itu menyangkut tata hubungan atar dirinya sebagai mahluk yang otonom dengan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia juga merupakan makhluk yang bersifat dependen. Persoalaan lain menyangkut kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk dengan kebutuhan jasmani yang nyaris tak berbeda dengan makhluk lain seperti makan, minum, kebutuhan akan seks, menghindarkan diri dari rasa sakit dan sebagainya tetapi juga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, menstrandensikan kebutuhan jasmaniah, yakni rasa aman, kasih sayang perhatian, yang semuanya mengisyaratkan adanya kebutuhan ruhaniah dan terakhir, manusia menghadapi problema yang menyangkut kepentiangan dirinya, rahasia pribadi, milik pribadi, kepentingan pribadi, kebutuhan akan kesendirian, namun juga tak dapat disangkan bahwa manusia tidak dapat hidup secara “soliter” melainkan harus “solider” , hidupnya tak mungkin dijalani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Belum lagi manusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan  tanggung jawab yang sangat berat yaitu  “Abdul Allah “ (hamba Allah) satu sisi dan sekaligus sebagai “Kholifah fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).
Sebelum lebih jauh membahas tentang hakekat manusia dalam pandangan filsafat, izinkan kami sedikit memaparkan tentang pengertian filsafat itu sendiri terlebih dahulu. Secara etimologis, filsafat berakar dari bahasa Yunani yaitu  phillein yang berarti cinta, dan shopia yang berarti kebijaksanaan. Jadi filsafat adalah “cinta kebijaksanaan”. Kemudian dari pendekatan etimologis tersebut, dapat disimpulkan bahwa filsafat berarti pengetahuan mengenai pengetahuan, akar dari pengetahuan atau pengetahuan yang terdalam.
Secara terminologis, banyak sekali pendapat-pendapat yang berkenaan dengan pengertian filsafat. Tidak ada pengertian yang secara pasti, tetapi berikut beberapa pengertian yang penulis dapat dari beberapa sumber.
    Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang amat luas (komprehensif) yang berusaha untuk memahami persoalan-persoalan yang timbul didalam keseluruhan ruang lingkup pengalaman manusia.
    Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang hakekat kebenaran sesuatu.
    Filsafat adalah daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami, mendalami dan menyelami secara radikal, dan integral serta sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahua tersebut.
I.    Rumusan masalah
1)    Apakah definisi manusia, alam, dan tuhan persfektif filsafat.?
2)    Bagaimana hubungan manusia, alam dan tuhan dalam sudut pandang filsafat.?
II.    Tujuan
1)    Untuk memahami dan Mengetahui definisi manusaia, alam dan tuhan dalam persfektif filsafat.
2)    Untuk memehami dan mengetahui hubungan manusia dengan alam dalam pandangan filsafat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat alam semesta
Kosmologi adalah cabang filsafat yang beusaha mencari dan membahas hakikat alam semesta, menyikap tentang  hakikat eksistensinya yang tersembunyi dibalik penampakan fisiknya . Kosmologi meruoakan kajian tentang alam semesta sebagai suatu sistim rasional yang teratur, termasuk didalamnya dikaji aspek metafisika dari ruang, gerak, waktu, perubahan, kausalitas , dan keabadian. Dalam teori moderen kosmologi lebih khusus membahas tentang asal usul, struktur, sifat dan perkembangan fisik alam semesta dengan daasar pengamatan dan metodelogi ilmiah. Dalam konsep filsafat islam, alam semesta adalah wujud atau eksistensi tuhan dalam kehidupan ini, dan mencerminkan tanda-tanda kebesaran tuhan, atau ayat-ayatnya. Alam semesta tidak bisa dilihat dengan mata kepala manusia, karena penglihatan mata kepala manusia sangat terbatas, meskipun menggunakan remote sensing sekalipun. Alam semesta tidak bisa di timbang, karna tidak ada timbangan yang dapat memuatnya, gunung saja tidak bisa ditimbang dan tidak ada alat timbangannya apalagi alam semesta. Maka di jelaskan penciptaan alam semesta dalam al-Qur’an sebagai berikut :
                •                    
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.
Penjelasan ayat
Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
Alam semesta sebagai eksistensi tuhan dalam kehidupan ini, meliputi langit, bumu, gunung, samudra, dan segala sesuatu yang ada diantara langit dan umi. Oleh karena itu langit adalah alam semesta, bumi adalah alam semesta dan segala isinya juga alam semesta. Alam semesta sebagai eksistensi tuhan tidak di ciptakan, yang di ciptakan adalah bagian dari alam semesta itu seperti bumi, langit, gunung, samudra, dan segala isi yang ada diantara keduanya . sebagai ciptaan maka langit bumi beserta isinya diciptakan melalui peroses hukum penciptaan yang pundamental, yaitu melalui peroses yang mensyaratkan pencipta waktu, bahan, tujuan, ukuran, dan disertakan didalamnya mekanisme hukum yang bekerja secara otomatis yang secara internal mengatur kehidupannya. Sebagaimana di jelaskan di dalam al-qur’an sebagai berikiut :
 •      
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
Alam semesta sebagai eksistensi tuhan tidak terbatas, yang terbatas adalah wujud-wujud keseluruhan dari lalm semesta tersebut. Dalam perbincangan filsafat terdapat perbedaan pendapat tentang penciptaan alam semesta, satu sisi pendapat menyatakan bahwa alam semesta diciptakan, dan sesangkan pendapat yang lainnya alam semesta tidak diciptakan, ibaratnya cahaya dengan matahari, dimana matahari tidak ernah menciptakan cahayanya . Jika alam semesta dicitakan, bagai mana peroses penciptaan itu terjadi, apakah tuhan sebagai penciptanya, terikat oleh hukum-hukum pencciptaan dan jika tuhan terikat oleh hukum-hukum penciptaan, maka keterikatan ini tentu bertentangan dengan kekuasaan tuhan sendiri. Bagaimana tuhan itu maha kuasa terikat dan tergantung pada hukum-hukum penciptaan. Sementara pendapat lain menyatakan bahwa penciptaan itu tidak terikat pada hukum-hukum penciptaan, dengan kata lain alam semesta tidak diciptakan, kejadiannya dimungkinkan memuai peroses yang di sebut emanasi atau alfaidl, pancaran.  Konflik ini muncul ketika algajali menyerang paham para filosof, yang di wakili oleh ibnu sina, berkaitan dengan penciptaan alam, al gajali menyatakan bahwa dunia diciptakan dalam waktu melalui keputusan tuhan yang abadi. Ia menolak selang waktu yang memisahkan keputusan abadi tuhan dengan penciptaan dunia sebagai kelemahan zatnya. Bagi al gazali penggambaran atau pemaparan penciptaan dilihata dari sisi waktu, hanyalah suatu permainan imajinai. Tuhan mendahului dunia hanyalah berarti bahwa tuhan itu ada sementara dunia itu tidak ada, dan terus ada dengan dunia. Apa yang di nyatakan itu adalah eksistensi sebuah entitas tuhan yang di akui oleh kedua entitas bersama-sama. Sementara bagi ibnu sina, tuhan mendahului dunia dalam esensi, ketimbang dalam dunia .
B.    Tentang penciptaan alam
                            
4. Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?

Penjelasan ayat
Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya., Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir.
Dalam konsep filsafat islam sesugguhnya dalam kehidupan ini segala sesuatu di ciptakan oleh allah dengan tidak ada kesia-sian dalam al-qur’ an di jelaskan sebagai baerikut :
                    
38. dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main ,39. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
C.    Mekanisme alam
Mekanisme alam adalah suatu sistem hukum-hukum yang mengatur kehidupanyang ada dalam alam yang sudah ditetapkan tuhan sejak awal penciptaannya dan dapat bekerja secara otomatis untuk melakukan kontrol kehidupannya dalam batas-batas yang sudah ditentukannya, baik batas waktu, batas ruang, batas fungsi, dan batas cara kembalinya pada tuhan . Dalam al-qur’an di jelaskan sebagai berikut:
•                                                                     
3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? 4. hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.
 •         •                              •        
1. Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, Maka Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. kamu tidak mengetahui barangkali Allah Mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru
Penjelasan ayat
 Maksudnya: isteri-isteri itu hendaklah ditalak diwaktu suci sebelum dicampuri. tentang masa iddah Lihat surat Al Baqarah ayat 228, 234 dan surat Ath Thalaaq ayat , Yang dimaksud dengan perbuatan keji di sini ialah mengerjakan perbuatan-perbuatan pidana, berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, ipar, besan dan sebagainya.,Suatu hal yang baru Maksudnya ialah keinginan dari suami untuk rujuk kembali apabila talaqnya baru dijatuhkan sekali atau dua kali.
Hukum-hukum itu mengandung kebenaran, karena memang diciptakan tuhan dengan perinsip kebenaran, yang dapat digali manusia menjadi pengetahuan konseptual untuk mengetahui tentang alam semesta. Dalam teori mengenai penciptaan ini, filsafat islam meletakan arti kedudukan-kedukan manusia sebagai khalifah , yaitu sebagai kedudukan yang muluia dengan tugas untuk meneruskan penciptaan, dan peroses meneruskan itu hanya dimungkinkan  oleh penguasaan manusia terhadap pengetahuan konseptualnya, sebagai mana yang telah diajarkan tuhan kepada nabi adam ketika akan di ngkat sebagai khalifah filardi tentang nama-nama benda, pengetahuan yang bersifat kekuasaan ( kemampuan berkarya), karna dengan menguasai pengetahuan konseptual manusia menegaskan kedudukannya di muka bumi.
D.    Kedudukan dan peranan manusia.
Dalam konsep filsafat islam kehadiran manusia dimuka bumi ini terjadi bukan atas rencana dan kehendak dari manusia sendiri, disamping itu, realitas menunjukan bahwa bumi telah ada terlebih dahulu daripada adanya manusia dan kemudian di pilih oleh tuhan untuk menjadi tempat tinggal manusia, bahkan menjadi pusat kehidupannya, dari bumi ia makan, tumbuh, berkembang dan mati lantas di kuburkan dalam perut bumi. Dilihat dari sudut pandang ontologis ini, maka kedudukian dan peranan manusia di muka bumi, bukan manusia yang menentukan, tetapi sebaliknya ia menerima kodrat hidup yang tidak bisa di tolaknya, dan mesti dijalaninya suka atau tidak suka . Oleh karena itu, secara ontologi kodrat manusia pada dasarnya adalah mahluk, artinya diciptakan, dan sebagai ciptaan sudah semestinya dirancang untuk tujuan dan fungsi tertentu, dan yang menetapkan rancangan tujuan dan fungsi itu bukan diri manusia itu melaikan allah yang telah menciptakan manusia sebagai khalifah fil ardhi di jelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut :
                     •           
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Untuk menjadi khalifah fil ardhi, atau yang akan meneruskan perintah tuhan di muka bumi allah membekalinya dengan pengetahuan untuk mengembangkan kehidupan di muka bumi sebagai mana  dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut :
                           •      
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar 32, mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Penjelasan ayat
Sebenarnya terjemahan hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, karena arti hakim Ialah: yang mempunyai hikmah. Hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Allah menciptakan alam semesta ini bukan untukNya, tetapi untuk seluruh makhluk yang diberi hidup dan kehidupan. Sebagai pencipta dan sekaligus pemilik, Allah mempunyai kewenangan dan kekuasaan absolut untuk melestarikan dan menghancurkannya tanpa diminta pertanggungjawaban oleh siapapun. Namun begitu, Allah telah mengamanatkan alam seisinya dengan makhlukNya yang patut diberi amanat itu, taitu MANUSIA. Dan oleh karenanya manusia adalah makhluk Allah yang dibekali dua potensi yang sangat mendasar, yaitu kekuatan fisi dan kekuatan rasio, disamping emosi dan intuisi. Ini berarti, bahwa alam seisinya ini adalah amanat Allah yang kelak akan minta pertanggungjawaban dari seluruh manusia yang selama hidupnya di dunia ini pasti terlibat dalam amanat itu.
Manusia diberi hidup oleh Allah tidak secara outomatis dan langsung, akan tetapi melalui proses panjang yang melibatkan berbagai faktor dan aspek. Ini tidak berarti Allah tidak mampu atau tidak kuasa menciptakannya sealigus. Akan tetapi justru karena ada proses itulah maka tercipta dan muncul apa yang disebut “kehidupan” baik bagi manusia itu sendiri maupun bagi mahluk lain yang juga diberi hidup oleh Allah, yakni flora dan fauna. Kehidupan yang demikian adalah proses hubungan interaktif secara harmonis dan seimbang yang saling menunjang antara manusia, alam dan segala isinya utamanaya flora dan fauna, dalam suatu “tata nilai” maupun “tatanan” yang disebut ekosistem. Tata nilai dan tatanan itulah yang disebut pula “moral dan etika kehidupan alam” yang sering dipengaruhi oleh paradigma dinamis yang berkembang dalam komunitas masyarakat disamping pengaruh ajaran agama yang menjadi sumber inspirasi moral dan etika itu.

DAFTAR PUSTAKA
Asy’arie Musa, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berfikir , yogyakarta, Lesfi, 2001.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

saya tunggu komentarr dan posting anda